Bagian Humas dan Protokol Setda Kota Palembang
   SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI HUMAS PROTOKOL PEMERINTAH KOTA PALEMBANG   PEMERINTAH KOTA PALEMBANG BESERTA JAJARAN DAN STAFF MENGUCAPKAN SELAMAT HARI KARTINI TAHUN 2014  
Waktu Palembang
ym
Kalender
APRIL 2014
S S R K J S M
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30        
             
ym
Jadwal Sholat
Palembang
Imsak04:31 WIB
Subuh04:41 WIB
Syuruq05:57 WIB
Dzuhur12:00 WIB
Ashar15:20 WIB
Maghrib18:01 WIB
Isya19:11 WIB
2°59'LS, 104°47'BT
Ketinggian : 10 m
Arah kiblat : 65°27' (U-B)
ym
Pengunjung
Tahun ini10217
Bulan ini1817
Hari ini2
Online3
59110
Sejak : 03/11/2009
ym

Portal Nasional Republik Indonesia

Departemen Dalam Negeri RI

Bappenas

Departemen Komunikasi & Informatika RI

Provinsi Sumatera Selatan

Visit Indonesia 2009

Pemerintah Kota Palembang

Link Twitter

fans Page FB

ym
Beranda > Benteng Kuto Besak

Benteng Kuto Besak

1270798508.jpgBenteng ini dibangun selama 17 tahun (1780-1797). Sebagaimana umumnya bangunan benteng pada masa lalu, benteng yang kemudian dikenal dengan nama Benteng Kuto Besak (BKB) ini dibangun di atas “pulau”. Lahan tempatnya berdiri dikelilingi sungai. Yaitu,Sungai Kapuran (kini,alirannya merupakan bagian Jl. Merdeka, setelah ditimbun Pemerintah Belanda sekitar tahun1930-an) di bagian utara ; Sungai Musi dibagian utara; Sungai Sekanak di bagian barat; dan Sungai Tengkuruk di bagian timur.

 

Separti halnya Sunagi Kapuran, Sungai Tengkuruk juga ditimbun Belanda pada awal 1930-an dan di jadikan sebagai jalan. Lokasi jalan, yang kemudian dikenal sebagaiJl. Tengkuruk ini(kini menjadi landasan Jembatan Ampera dan sebagian lagi menjadi Jl. Jenderal Sudirman (sebelumnya Jl. Talang Jawa), ini sempat berfungsi sebagai boulevavard. Pada masa Palembang berbentung Gementee (Kotapraja), Boulevard Tengkuruk ini dijadikan sebagi bagian dari rute pawai atau karnaval even tertentu Kerajaan Belanda, antara lain hari ulang tahun Ratu Wilhelmina.

 

BKB, yang mulai difungsikan secara resmi pada Senin, 23 Sya’ban 1211h (21 Februari 1797 M), ini dibangun oleh Sultan Muhammad Bahahauddin (1776-1803 M) Pembangunannya dimulai pada Ahad 15 Jumadil Awal 1193 H (1779 M0. Pembangunan benteng termasuk keraton “baru” ini merupakan kelanjutan dari gagasn Sultan Mahmud Badarudin Jayo Wikramo atau SMB I (1724-1758 M). Pendiri Masjid Agung (pada masa iti disebut sebagai Masjid Sulton) itu adalah kakek Sultan Muhammad Bahaudin.

 

Bangunan ini menggunakan bahan batu dan semen 9batu kapur serta bubuk tumbukan kulit kerang). Konon, sebagi bahan penguat tambahan digunakan pula putih telur dan rebusan tulang serta kulit sapi dan kerbau.

 

Benteng berbentuk persegi empat dengan ukuran panjang 290 meter, lebar 180 meter. Dan tinggi 6,60 meter – 7.20. Di keempat sudutnya, terdapat empat bastion (buluarti) untuk menempatkan meriam. Meriam yang terdapat di keempat sudut benteng inilah yang dipakai untuk menghalau tentara dan menghancurkan armada Belanda pada Perang Palembang I tahun 1819 (Perang Menteng) dan Perang Palembang II tahun 1819.

 

Sesuai dengan posisinya yang dikelilingi sungai, BKB memiliki pintu empat pintu. Yaitu pintu utama yang menghadap Sungai Musi dan yamh tiga pintu lain yang masing-masing menghadap Sungai Tengkuruk,Sungai Kapuran dan Sungai Sekanak. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, didalam benteng terdapat Keraton,Keputren,Ruang Pertemuan (Pamalarek) dan rumah para elite Kesultanan.

 

1270798886.jpg

 

 

ym
Telepon Penting
Kebakaran113, 312011
Ambulans118
Polisi110
SAR355111
RSMH354088
ym
Jajak Pendapat
Bagaimana pendapat Anda tentang Pelayanan Publik yang telah diberikan oleh Pemerintah Palembang saat ini?
Sangat Baik
Baik
Lumayan
Kurang Baik
Tidak Tahu
 
ym
Cuaca

Data Cuaca tidak bisa diambil.

ym

Bappenas   fans Page FB   Departemen Komunikasi & Informatika RI   Visit Indonesia 2009   Pemerintah Kota Palembang   Departemen Dalam Negeri RI  

© 2006 - 2009 Pemerintah Kota Palembang