Bagian Humas dan Protokol Setda Kota Palembang
   PEMERINTAH KOTA PALEMBANG BESERTA JAJARAN DAN STAFF SETDA KOTA PALEMBANG MENGUCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA MASYARAKAT KOTA PALEMBANG YANG TELAH BERPERAN AKTIF DALAM MENJAGA KEBERSIHAN KOTA SEHINGGA DI RAIHNYA ADIPURA KENCANA TAHUN 2014   SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI HUMAS PROTOKOL PEMERINTAH KOTA PALEMBANG   SELAMAT KEPADA KOTA PALEMBANG ATAS BERHASIL DIRAIHNYA PIALA ADIPURA KE 8 X DAN ADIPURA KENCANA PERTAMA TAHUN 2014 (PALEMBANG EMAS 2018)  
Waktu Palembang
ym
Kalender
AGUSTUS 2014
S S R K J S M
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
             
ym
Jadwal Sholat
Palembang
Imsak04:35 WIB
Subuh04:45 WIB
Syuruq06:00 WIB
Dzuhur12:04 WIB
Ashar15:21 WIB
Maghrib18:05 WIB
Isya19:14 WIB
2°59'LS, 104°47'BT
Ketinggian : 10 m
Arah kiblat : 65°27' (U-B)
ym
Pengunjung
Tahun ini13586
Bulan ini3
Hari ini3
Online1
62479
Sejak : 03/11/2009
ym

Portal Nasional Republik Indonesia

Departemen Dalam Negeri RI

Bappenas

Departemen Komunikasi & Informatika RI

Provinsi Sumatera Selatan

Visit Indonesia 2009

Pemerintah Kota Palembang

Link Twitter

fans Page FB

ym
Beranda > MAKAM KI GEDE ING SURO

MAKAM KI GEDE ING SURO

MAKAM KI GEDE ING SURO

            Kompleks pemakaman kuno ini sekarang menjadi bagian dari jalur hijau(green barrier) PT Pusri. Di kompleks pemakaman yang masuk dalam wilayah administrative Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan IT II ini, terdapat delapan bangunan dengan jumlah makam keseluruhan 38 buah. Salah satu tokoh yang dimakamkan di kompleks pemakaman dibangun sekitar pertengahan abad XVI ini adalah Ki Gede ng Suro.

            Ki Gede Ing Suro adalah putra Ki Gede Ing Lautan, salah satu dari 24 bangsawan (bekas) Demak yang menyingkir ke Palembang setelah terjadi kekacauan di kerajaan Islam besar di Pulau Jawa itu. Kekisruhan ini merupakan rangkaian panjang dari sejarah kerajaan terbesar di Nusantara (setelah Sriwijaya), yaitu Majapahit.

            Raden Fatah yang lahir di Palembang adalah putra Raja Majapahit terakhir, yaitu Brawijaya V. Raden fatah yang lahir dari Putri Cina (ada yang menyebutnya Champa) setelah istri Brawijaya itu dikirim ke Palembang dan diberikan kepada putre Brawijaya, Ariodamar atau Ario Abdillah atau Ario Dillah. Setelah dewasa, Raden Fatah bersama Raden Kusen, putra Ario Dillah dengan Cina dikirim kembali ke Majapahit.

            Oleh Brawijaya V, Raden Fatah diperintahkan untuk menetap di Demak atau Bintaro sedangkan adiknya lain bapak,

            Raden Kusen, diangkat sebagai Adipati d Terung. Pada masa menjelang akhir abad XV ini, Islam  di Pulau Jawa mulai kuat. Saat terjadi penyerbuan oleh orang Islam terhadap Majapahit, prajurit kerajaan Hindu itu kalah dan Raja Brawijaya V menyingkir hingga kemudian mangkat. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Majapahit.

            Setelah keruntuhan Majapahit, Sunan Ngampel Denta (wali tertua dalam Walisongo) menetapkan Raden Fatah sebagai raja Jawa menggantikan ayahnya. Tentu saja, dengan pemerintahan Islam.

            Raden Fatah, dibantu para wali, kemudian memindahkan pusat kekuasaan dari Surabaya ke Demak sekaligus menyebarkan agama Islam di daerah ini.

            Atas bantuan penguasa dan rakyat di daerah yang sudah lepas dari Majapahi, antara lain TUban, Gresik, Jepara, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam Demak sekitar tahun 1481 M. Dia menjadi raja pertama dengan gelar Jimbun Ngabdu’r Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata Agama.

            Raden Fatah yang wafat sekitar tahun 1518 M, digantikan putranya, Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang wafat tahun 1521 M. Pengganti Pati Unus adalah Pangeran Trenggono (wafat tahun 1546 M).

            Wafatnya Sultan ketiga Demak ini merupakan awal dari kisruh berkepanjangan di kerajaan Islam yang sempat punya pengauh besar di Nusantara itu.

            Tahta kerajaan menjadi rebutan antara saudara Trenggono dengan putranya. Saudaranya, yang dikenal sebagai Pangeran Seda Ing Lepen dibunuh putra Trenggono, Pangeran Prawata.

            Prahara berlanjut dengan pembunuhan terhadap Prawata oleh Putra Seda Ing Lepen, Arya Penangsang atau Arya Jipang pada tahun 1549 M. Menantu Trenggono, Pangeran Kalinyamat, juga dibunuh.

            Arya Penangsang akhirnya wafat dibunuh Ardiwijaya. Menantu Trenggono yang terkenal sebagai Jaka Tingkir, Adipati penguasa Pajang ini kemudian memindahkan pusat kerajaan ke Pajang. Dengan demikian, berakhir pula kekuasan Demak pada tahun 1546 M setelah berjaya selama 65 tahun.

            Akibat kemelut itu, sebanyak 24 orang keturunan Sultan Trenggono (artinya, keturunan Raden Fatah juga) hijrah ke Palembang di bawah pimpinan Ki Gede Sido Ing Lautan. Setelah Ki Gede Sido Ing lautan yang sempat berkuasa di Palembang wafat, digantikan putranya, Ki Gede Ing Suro. Karena raja ini tidak memiliki keturuan, dia digantikan saudaranya, Ki Gede Ing Suro Mudo.    

                  

ym
Telepon Penting
Kebakaran113, 312011
Ambulans118
Polisi110
SAR355111
RSMH354088
ym
Jajak Pendapat
Bagaimana pendapat Anda tentang Pelayanan Publik yang telah diberikan oleh Pemerintah Palembang saat ini?
Sangat Baik
Baik
Lumayan
Kurang Baik
Tidak Tahu
 
ym
Cuaca

Data Cuaca tidak bisa diambil.

ym

Departemen Komunikasi & Informatika RI   fans Page FB   Departemen Dalam Negeri RI   Portal Nasional Republik Indonesia   Visit Indonesia 2009   Link Twitter  

© 2006 - 2009 Pemerintah Kota Palembang